Orang tua para nabi dan pemimpin orang-orang taqwa yaitu nabi Ibrohim as. Pergi membawa anaknya tercinta Ismail serta istrinya tersayang yaitu Siti Hajar menuju rumah tuhannya yang suci. Beliau mempercepat langkahnya mengikut sertakan kantong kulit berisi kurma dan tempat berisi air, sehingga tatkala beliau sampai di Makkatul Mukarromah, beliau menitipkan putranya yang mulia serta serta istrinya kepada tuhan, kemudian kembali pulang, lalu ibu Ismail mengikutinya seraya berkata “kemana engkau pergi wahi Nabi Ibrohim? Engkau tunggalkan kami di lembah yang kering dari segala sesuatu” nabi Ibrohim tidak memperdulikannya dan tidak memalingkan wajahnya, atas jeritan ibu Ismail kemudian dia mengulangi seruannya yang kedua dan yang ketiga seraya berkata “apakah Allah memerintahkan engkau demikian?”, nabi Ibrohim menjawab “iya”,  ibu Ismail berkata dalam hati, kslsu begitu Allah tidak akan melantarkan kami. Tatkala nabi Ibrohim sudah tidak kelihatan anak dan istrinya, maka nabi Ibrohim menghadap Allah yang memelihara langit dan bumi yang tidak mengabaikan barang-barang titipan sambil berdoa dengan hati yang cemas dan jiwa yang tenang “Ya tuhan kami sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahmu yang dihormati, Ya Tuhan kami agar mereka mendirikan salat maka jadikanlah hati sebagian manusisa cenderung kepada mereka dan berikan rizqi kepada mereka berupa buah-buahan mudah-mudaham mereka bersukur”.
Siti Hajar ibu Ismail segera menyusui anaknya yang masih kecil dan ia minum air yang tersedia sehingga tatkala air yang tersedia sudah habis maka dia kehausan, begitu pula anaknya haus lantaran ibunya haus, kemudian dia memandang anaknya sedang mengatupkan kedua bibirnya karena kehausan, pandangan itu sangat menyusahkan dan membakar perasaan hatinya, kemudian dia pergi mencari pertolongan untuk mengatasi musibah ini , kemudian dia menemukan bukit Shofa yang paling dekat dan tinggi kemudian dia naik ke atas menghadap ke arah lembah memandang ke kanan dan ke kiri, ke depan dan kebelakang berharap adakah seseorang yang dapat meneyelamatkannya?, ternyata dia tidak melihat seorang pun kemudian dia turun dari Shofa hingga tatkala dia sampai ke lembah maka dia mengangkat ujung pakaiannya kemudian dia berusaha dengan maksimal sehingga dia melintasi Shofa kemudian datang ke bukit Marwah, kemudian dia naik berdiri diatasnya dan melihat apakah ada seseorang?, ternyata dia tidak melihat seorangpun, sehingga dia letih kepayahan sedangkan air mata terus menerus bercucuran darinya.
Sahabat Ibnu Abbas RA. Berkata oleh karena hal tersebut manusia (jama’ah haji dan umroh) bersa’i antara Shofa dan Marwah.